×

Aurelie Minta Netizen Tak Bully Sosok NW di Broken Strings

Aurelie Minta Netizen Tak Bully Sosok NW di Broken Strings

Aurelie Moeremans akhirnya buka suara terkait spekulasi yang menyeret nama Nikita Willy dalam bukunya Broken Strings. Pemilik nama lengkap Aurelie Moeremans tersebut meminta warganet untuk tidak membully atau menyerang karakter-karakter yang muncul dalam memoarnya, apalagi jika masih sebatas tebak-tebakan.

Klarifikasi tersebut di sampaikan Aurelie melalui akun Threads pribadinya pada 16 Januari 2026. Ia merasa tidak enak hati membaca asumsi-asumsi warganet yang bergerak liar dan menyerang beberapa artis di media sosial.

Aurelie Minta Netizen Berhenti Spekulasi

Penulis buku Broken Strings tersebut menegaskan bahwa spekulasi tanpa dasar bisa menyakiti banyak pihak. Ia meminta pembaca untuk tidak mengaitkan karakter dalam bukunya dengan sosok di kehidupan nyata lalu membullynya secara membabi buta.

“Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada dalam buku, apalagi kalau masih sebatas tebak-tebakan,” ujar Aurelie.

Aurelie juga menanggapi aksi Roby Tremonti yang muncul ke publik dan meminta penegasan terkait karakter ‘Bobby’ dalam buku tersebut. Ia menyatakan bahwa siapa pun yang mengaku sendiri merupakan urusan masing-masing.

“Kalau ada orang yang mengaku sendiri itu urusan masing-masing. Kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak lalu menyerang please jangan,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Instagram Nikita Willy di serbu netizen yang menuntut permintaan maaf. Warganet mengaitkan sosok pemeran utama dalam buku Broken Strings dengan aktris ibu dua anak tersebut.

Spekulasi Netizen Terhadap Nikita Willy

Nama Nikita Willy mencuat setelah warganet melakukan cocoklogi terhadap salah satu tokoh artis papan atas yang di ceritakan Aurelie dalam bukunya. Sosok tersebut di gambarkan sebagai bintang besar yang memiliki pengaruh kuat di dunia sinetron.

Dalam Bab 10 “Gereja di Waktu Fajar”, Aurelie menuliskan pengalaman pahit saat berhadapan dengan seorang pemeran utama yang bersikap dingin dan merendahkan. Saat itu, Aurelie yang masih berusia 18 tahun baru mulai bergabung dalam produksi sinetron yang sudah berjalan ratusan episode.

Aurelie menceritakan bagaimana ia pernah datang ke tempat syuting dan duduk di sebuah kursi. Ia kemudian di semprot dengan obat nyamuk oleh asisten dari pemeran utama wanita di sinetron tersebut.

“Si pemeran utamanya ngelihat, terus bisik-bisik ke asistennya, asistennya langsung ambil semprotan terus di semprot gitu ke aku, terus aku syok, kenapa? Di semprot ke sofa tapi kayak gini banget (dekat ke arahnya). Terus aku baru tahu ternyata sofa itu punya pemeran utamanya,” cerita Aurelie dalam podcast yang kemudian viral.

Warganet kemudian mengaitkan kisah tersebut dengan sinetron Putri yang Di tukar yang tayang sekitar tahun 2011. Sinetron tersebut di bintangi banyak artis ternama, dengan Nikita Willy sebagai pemeran utama.

Kisah Potong Rambut yang Berujung Penolakan

Selain insiden obat nyamuk, Aurelie juga menceritakan pengalaman pahit lain yang melibatkan pemeran utama sebuah sinetron. Ia pernah di tawari masuk ke judul sinetron yang sama dengan artis tersebut.

“Aku pernah di tawarin masuk ke judul dia lagi gitu. Terus produsernya bilang, ‘tapi kamu harus potong pendek’,” cerita Aurelie.

Aurelie menjelaskan bahwa produser meminta dirinya memotong rambut pendek karena akan memerankan karakter tomboi yang naik motor. Meskipun sedih, Aurelie menuruti permintaan tersebut dan memangkas rambutnya menjadi sangat pendek.

Namun setelah mengubah rambutnya, Aurelie justru menerima penolakan dari pemeran utama sinetron tersebut.

“Habis potong, si peran utamanya itu kayak ‘ih jangan pake orang ini deh’. Akhirnya nggak jadi di pakai, padahal sudah potong rambut,” bongkar Aurelie.

Netizen kemudian menemukan sinetron berjudul Best Friend (2008) di mana Nikita Willy akhirnya beradu akting dengan Risty Tagor yang saat itu tampil dengan rambut super pendek. Spekulasi pun semakin kuat bahwa sosok pemeran utama yang di maksud Aurelie adalah Nikita Willy.

Podcast Jordi Onsu Jadi Sorotan

Warganet semakin yakin dengan dugaan mereka setelah menemukan pengakuan Nikita Willy dalam podcast Jordi Onsu. Sikap yang seolah sebagai penguasa Production House dan ratu sinetron tersebut mendapat sorotan tajam dari netizen.

Jordi Onsu dalam podcast tersebut mengungkapkan bahwa Nikita Willy bisa saja mengganti pemeran sesuai keinginannya. Jika tidak suka dengan salah satu pemeran, maka karakter tersebut bisa menghilang atau tersiram air keras sehingga wajahnya berubah.

Nikita Willy dalam podcast tersebut juga berujar bahwa ia tidak suka dengan orang yang tidak memiliki adab saat syuting. Pernyataan tersebut membuat netizen semakin yakin bahwa dialah sosok NW yang di maksud dalam spekulasi.

Namun hingga artikel ini di tulis, Nikita Willy belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan yang beredar. Istri Indra Priawan tersebut terlihat tetap tenang dan fokus mengurus buah hatinya tanpa memusingkan isu yang beredar.

Broken Strings Viral di Media Sosial

Buku memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans menjadi fenomena literasi pada awal 2026. Buku yang di rilis secara independen pada Oktober 2025 tersebut memuat kisah personal Aurelie tentang pengalaman pahit yang ia alami semasa remaja.

Aurelie menceritakan pengalamannya menjadi korban child grooming saat berusia 15 tahun. Ia terjebak dalam hubungan manipulatif dengan pria yang usianya hampir dua kali lipat dari usianya.

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di grooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku,” ungkap Aurelie.

Dalam buku tersebut, Aurelie tidak menyebutkan nama pelaku secara gamblang. Ia memilih menggunakan nama samaran Bobby untuk menggambarkan sosok yang memiliki peran besar dalam pengalaman traumatisnya.

Aurelie menjelaskan proses penulisan bukunya di lakukan secara intens selama beberapa bulan. Ia menulis pelan-pelan dan hati-hati agar setiap bagian tertuang dengan jujur.

“Ceritanya sudah aku simpan di kepala dan hati bertahun-tahun, tapi menulisnya sendiri aku lakukan secara intens dalam beberapa bulan. Aku nulis pelan-pelan, satu per satu, karena aku ingin setiap bagian di tulis dengan jujur dan hati-hati, bukan sekadar cepat selesai,” kata Aurelie.

Roby Tremonti Buka Suara

Viralnya buku Broken Strings juga menyeret nama musisi Roby Tremonti ke ruang publik. Warganet menduga sosok Bobby dalam buku tersebut adalah Roby, mengingat jejak digital mencatat bahwa keduanya pernah menikah.

Roby Tremonti merasa perlu meluruskan tuduhan yang di arahkan kepadanya. Ia mengaku merasa tersindir dengan narasi dalam buku tersebut.

“Di buku itu di sebutkan tokoh Bobby memaksa Aurelie menikah, dan jejak digital di internet mencatat bahwa saya pernah menikah dengannya. Jadi, wajar jika saya merasa tersindir dan perlu meluruskan tuduhan tersebut,” kata Roby.

Roby menolak keras tuduhan melakukan grooming dan pedofilia. Ia mengklaim memiliki bukti video wawancara lama di mana Aurelie mengakui sudah berciuman pertama kali pada umur 13 tahun di Belgia, jauh sebelum mengenal dirinya.

Dalam siaran langsung di TikTok, Roby mengaku sudah terlalu lama memilih diam. Ia menyebut dirinya merasa menjadi korban pemberitaan selama 16 tahun terakhir.

“16 tahun gue diam aja di injak-injak, di hina-hina. Gue di bilang KDRT lah segala macam, buktinya dong mana?” ujar Roby.

Roby juga mempertanyakan mengapa tuduhan-tuduhan tersebut tidak di laporkan ke pihak berwajib. Ia menantang pihak manapun untuk membuktikan keberadaan foto yang di maksud dalam tuduhan.

Dampak Psikologis Child Grooming

Buku Broken Strings tidak hanya menjadi kisah personal Aurelie, tetapi juga membuka diskusi publik mengenai isu child grooming. Fenomena ini kerap terjadi di latar yang tampak aman dan sulit dikenali pada awalnya.

Child grooming adalah bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan seseorang untuk membangun kedekatan, kepercayaan, dan ketergantungan emosional pada anak atau remaja. Tujuannya adalah mengeksploitasi korban di kemudian hari.

Proses grooming sering berlangsung perlahan dan tidak terasa sebagai kekerasan di awal. Pelaku biasanya menyamarkan niatnya sebagai perhatian atau kasih sayang.

Dampak child grooming dapat sangat serius pada kondisi mental dan emosional korban. Gangguan tidur, kecemasan, depresi, kesulitan konsentrasi, hingga trauma berkepanjangan kerap di alami para penyintas.

Komisioner KPAI Ai Maryati Solihah menekankan bahwa dampak grooming bisa sangat merusak. Korban bisa menyerahkan diri sepenuhnya bahkan melakukan tindakan melawan hukum untuk patuh pada pelaku.

“Child grooming dapat membuat seseorang menyerahkan diri sepenuhnya, bahkan melakukan tindakan melawan hukum untuk patuh. Kecanduan cinta mengubah segalanya,” kata Ai.

Kak Seto Ikut Terseret Polemik

Selain Nikita Willy dan Roby Tremonti, nama Kak Seto juga ikut terseret dalam polemik buku Broken Strings. Beredar narasi bahwa orang tua Aurelie pernah meminta tolong kepada Kak Seto hingga empat kali sekitar tahun 2010.

Kala itu Kak Seto berada di Komisi Nasional Perlindungan Anak RI. Namun respons yang di dapat tidak sesuai harapan keluarga Aurelie.

Kak Seto kemudian menyampaikan pernyataan sikap melalui akun Instagram terverifikasinya. Salah satu poin penting dalam pernyataannya adalah mengecam manipulasi dan praktik child grooming.

“Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming,” tulisnya.

Pernyataan Kak Seto tersebut menjadi upaya untuk meredam polemik yang menyeret namanya selama berhari-hari.

Dukungan Publik untuk Aurelie

Keberanian Aurelie membuka luka masa lalunya mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Save the Children Indonesia menyebut kasus Aurelie sebagai cerminan nyata bahwa anak selalu berada dalam risiko kekerasan.

Senior Director of Advocacy Campaign Save the Children Indonesia, Tata Sudrajat, menjelaskan bahwa setiap orang dewasa pada dasarnya memiliki potensi menjadi pelaku kekerasan terhadap anak.

“Penggunaan taktik grooming sebagai cara pelaku mendekati dan memanipulasi korban membuat anak, terutama di usia lebih muda, sering tidak menyadari niat tersembunyi di balik pujian atau sanjungan orang dewasa,” kata Tata.

Kisah Aurelie menjadi pengingat bahwa kekerasan seksual tidak selalu berbentuk serangan fisik yang jelas. Sering kali kekerasan hadir dalam bentuk manipulasi psikologis yang halus dan sulit di kenali.

Nikita Willy Tetap Bungkam

Hingga saat ini, Nikita Willy belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait isu perundungan yang menyorot namanya. Aktris kelahiran 29 Juni 1994 tersebut memilih untuk tidak merespons tuduhan yang beredar di media sosial.

Perlu di catat bahwa kaitan Nikita Willy dengan isu perundungan terhadap Aurelie hanya berdasarkan cocoklogi warganet. Aurelie sendiri tidak pernah menyebut siapa aktris pemeran utama sinetron yang membullynya secara eksplisit.

Dalam buku Broken Strings maupun dalam berbagai wawancara, Aurelie konsisten tidak menyebutkan nama-nama orang yang terlibat dalam pengalaman pahitnya. Ia memilih menggunakan inisial atau nama samaran untuk melindungi identitas.

Kesimpulan

Aurelie Moeremans meminta warganet untuk berhenti membully karakter-karakter dalam buku Broken Strings berdasarkan spekulasi semata. Ia menegaskan bahwa tebak-tebakan tanpa dasar bisa menyakiti banyak pihak yang tidak bersalah.

Nama Nikita Willy terseret dalam polemik setelah warganet melakukan cocoklogi terhadap kisah perundungan yang di ceritakan Aurelie. Namun hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi dari kedua belah pihak mengenai identitas sosok pemeran utama yang di maksud.

Buku Broken Strings sendiri telah membuka diskusi penting tentang isu child grooming dan perlindungan anak di industri kreatif. Keberanian Aurelie berbicara di harapkan bisa menjadi inspirasi bagi para penyintas lain untuk tidak takut menyuarakan pengalaman mereka.

Share this content:

You May Have Missed