×

AS Tinggalkan WHO, Trump Kritik Keras Penanganan COVID

AS Tinggalkan WHO, Trump Kritik Keras Penanganan COVID

Amerika Serikat resmi meninggalkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada awal masa jabatan Trump kedua. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak di dunia internasional. Trump menganggap WHO gagal menjalankan fungsinya saat pandemi COVID-19 melanda dunia.
Selain itu, pemerintah AS menilai WHO terlalu berpihak pada China dalam menangani wabah. Organisasi kesehatan global ini dianggap lambat memberi peringatan dini tentang bahaya virus corona. Trump juga menyoroti besarnya kontribusi finansial AS yang tidak sebanding dengan kinerja WHO.
Oleh karena itu, Washington memutuskan keluar dari keanggotaan setelah bertahun-tahun menjadi donatur terbesar. Langkah kontroversial ini memicu perdebatan sengit di kalangan ahli kesehatan global. Banyak pihak mempertanyakan dampak jangka panjang dari keputusan sepihak ini terhadap kerja sama kesehatan internasional.

Alasan AS Keluar dari Keanggotaan WHO

Trump mengkritik WHO karena terlambat mengumumkan status darurat kesehatan global saat COVID-19 muncul. Pemerintah AS menuduh organisasi ini terlalu percaya informasi dari pemerintah China tanpa verifikasi independen. Keterlambatan ini mengakibatkan penyebaran virus ke seluruh dunia menjadi tidak terkendali.
Menariknya, AS berkontribusi sekitar 400 juta dolar per tahun untuk operasional WHO. Jumlah ini merupakan yang terbesar dibanding negara anggota lainnya. Trump menganggap dana sebesar itu tidak memberikan manfaat proporsional bagi kepentingan kesehatan rakyat Amerika. Administrasinya menilai WHO lebih mengutamakan kepentingan politik daripada kesehatan masyarakat global.

Respons Dunia Terhadap Keputusan Washington

Uni Eropa mengecam keras keputusan AS untuk meninggalkan WHO di tengah ancaman pandemi global. Negara-negara Eropa menganggap langkah ini kontraproduktif terhadap upaya kerja sama kesehatan internasional. Mereka khawatir kekosongan kepemimpinan AS akan melemahkan respons global terhadap krisis kesehatan mendatang.
Tidak hanya itu, China justru meningkatkan kontribusinya kepada WHO setelah AS keluar dari organisasi. Beijing melihat ini sebagai peluang untuk memperluas pengaruhnya dalam tata kelola kesehatan global. Negara-negara berkembang juga menyayangkan keputusan AS karena WHO masih sangat mereka butuhkan untuk program kesehatan. Organisasi ini membantu mereka mengatasi berbagai penyakit menular dan membangun sistem kesehatan yang lebih baik.

Dampak Penarikan Diri AS bagi Kesehatan Global

Keluarnya AS dari WHO menciptakan kekosongan dana operasional yang sangat signifikan bagi organisasi tersebut. WHO harus mencari sumber pendanaan alternatif untuk melanjutkan program-program kesehatan penting di berbagai negara. Program vaksinasi, penanganan malaria, dan tuberculosis berpotensi terganggu akibat berkurangnya anggaran operasional.
Lebih lanjut, kepergian AS melemahkan kapasitas WHO dalam merespons pandemi atau wabah penyakit di masa depan. Negara adidaya ini memiliki sumber daya, teknologi, dan keahlian yang sangat berharga bagi upaya kesehatan global. Tanpa partisipasi aktif AS, koordinasi internasional dalam menghadapi ancaman kesehatan menjadi lebih sulit dan tidak efektif.
Di sisi lain, beberapa ahli berpendapat keputusan ini bisa memicu reformasi internal WHO yang sudah lama tertunda. Organisasi ini mungkin akan lebih transparan dan akuntabel dalam menjalankan tugasnya. Namun proses reformasi membutuhkan waktu panjang sementara ancaman kesehatan global terus berkembang setiap hari.

Polemik Penanganan COVID-19 oleh WHO

WHO menghadapi kritik tajam karena terlambat menyatakan COVID-19 sebagai pandemi global pada Maret 2020. Virus sudah menyebar ke puluhan negara sebelum organisasi ini mengambil tindakan tegas. Banyak negara merasa dirugikan karena tidak mendapat peringatan dini yang memadai untuk mempersiapkan sistem kesehatan mereka.
Sebagai hasilnya, jutaan orang terinfeksi dan ratusan ribu nyawa melayang dalam beberapa bulan pertama pandemi. Ekonomi global juga ambruk karena lockdown massal yang harus negara-negara terapkan secara mendadak. WHO dianggap gagal memberikan panduan yang jelas dan konsisten tentang cara penularan virus corona. Rekomendasi tentang penggunaan masker, lockdown, dan protokol kesehatan sering berubah-ubah dan membingungkan publik.
Pada akhirnya, kepercayaan publik terhadap WHO menurun drastis selama pandemi COVID-19 berlangsung. Banyak negara kemudian mengambil kebijakan kesehatan sendiri tanpa menunggu arahan dari organisasi global ini. Situasi ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap peran dan fungsi WHO di era modern.

Masa Depan Kerja Sama Kesehatan Internasional

Keputusan AS meninggalkan WHO memaksa negara-negara lain mencari model kerja sama kesehatan alternatif yang lebih efektif. Beberapa negara mulai membentuk aliansi regional untuk menangani masalah kesehatan bersama tanpa bergantung pada WHO. Model ini memungkinkan respons lebih cepat dan sesuai dengan kebutuhan spesifik masing-masing kawasan.
Dengan demikian, tata kelola kesehatan global mungkin akan berubah menjadi lebih desentralisasi dalam beberapa tahun mendatang. Negara-negara akan lebih mengandalkan kerja sama bilateral atau multilateral regional daripada organisasi global tunggal. Perubahan ini bisa membawa dampak positif berupa fleksibilitas lebih besar dalam merespons krisis kesehatan lokal.

Kesimpulan dan Refleksi

Keputusan AS keluar dari WHO menandai titik balik penting dalam sejarah kerja sama kesehatan internasional. Trump mengirim pesan tegas bahwa akuntabilitas dan efektivitas harus menjadi prioritas utama organisasi global. Meski kontroversial, langkah ini memicu diskusi penting tentang reformasi sistem kesehatan global yang lebih responsif.
Ke depannya, dunia perlu membangun mekanisme kerja sama kesehatan yang lebih transparan dan dapat dipercaya semua negara. Pengalaman pahit pandemi COVID-19 harus menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki sistem peringatan dini global. Hanya dengan kerja sama yang solid dan organisasi yang akuntabel, kita bisa menghadapi ancaman kesehatan masa depan dengan lebih baik.

Share this content:

You May Have Missed